Kamis, 14 Mei 2015

Ciberes

Tiap nama di Jawa Barat yang diawali “ci”, pasti berhubungan dengan air. Tentu saja, karena “ci” adalah air, kependekan dari “cai”. Yang memakai awalan “ci” biasanya adalah nama daerah dan nama sungai.

Ciberes, inilah sungai yang memotong daerah Kalimanggis. Namanya memang tidak mencerminkan kondisinya, maksudnya sungai ini tidaklah beres dan rapi, berkelok-kelok dan banyak batu berbagai ukuran. Namanya juga sungai. Kata orang-orang tua, batu-batu besar di Ciberes itu berasal dari letusan Gunung Ciremai dahulu kala. Kalimanggis saat itu hanya kebagian batunya saja. Atau bisa juga batu-batu itu terbawa arus sungai saat arusnya sedang luar biasa besar.


Ciberes
Ada jembatan di atas Ciberes, jembatan jalan raya. Dulu jembatan ini sempit, tapi sekarang sudah lebar. Yang mendebarkan adalah kalau truk lewat. Kondisi jalannya sekarang tidak begitu bagus. Mudah-mudahan saja bakal membaik nantinya. Aamiin.


Jembatan

Dulu, warga sering mandi dan mencuci di Ciberes. Tapi ada juga yang melakukannya di mata air di tepi Ciberes. Ada beberapa mata air dan membentuk semacam sumur dan airnya sangat jernih (tapi tentu saja tidak bisa diminum karena tidak higienis). Tapi dulu masih parah, Ciberes juga suka menjadi WC umum. Tapi itu dulu, dulu ya… sekarang sih warga b.a.b. di rumah masing-masing, di WC masing-masing maksudnya. Lucunya, Ciberes juga sering jadi tempat “ngebak” anak-anak. Ngebak itu bisa dibilang mandi dan berenang, tapi bukan mandi dalam artian sebenarnya, mereka hanya cebur-ceburan dan main berenang, dan mereka (biasanya) akan mandi di rumah. Warga dan anak-anak juga menyebut itu bukan mandi. Yang lucu lagi, dulu saat Ciberes masih menjadi WC umum, kalau ada orang yang mau “nabung” dan ada anak-anak ngebak, orang itu suka sengaja nongkrongnya di hulu. Pas anak-anak lihat, mereka langsung berhamburan seperti lalat tertiup topan sambil berteriak “awas aya nu ngebom (awas ada yang nge-bom)” hahaha.





Sekarangpun masih ada anak-anak ngebak di Ciberes, meski tidak sebanyak dulu. Tapi Ciberes bukan hanya tempat bermain anak. Sungai ini juga jadi pemandian umum bagi kerbau. Kerbau yang habis dinas biasa dimandikan di bawah jembatan jalan. Kotor memang, apalagi kalau ada anak-anak di hilir. Tapi biasanya waktu bersantai kerbau ini sore hari pas hampir maghrib, jadi jarang ada anak yang ngebak, kecuali anak yang bandel. Ada saja yang ngebak di waktu hampir maghrib, walaupun sudah diberitahu di hulu ada si kebo lagi rebahan.

Ciberes juga jadi ajang mencari lempung (tanah liat). Di tepinya banyak terdapat tanah liat. Anak-anak biasa mencari lempung untuk dijadikan mainan orang-orangan, atau kerajinan tangan tugas sekolah. Sayapun pernah membuat topeng dari lempung Ciberes hahaha.

Jembatan bambu penghubung Desa Kalimanggiswetan dan Partawangunan




Namun, Ciberes bukan hanya tempat untuk hal menyenangkan. Hal mengerikanpun ada. Kebanyakan orangtua sebenarnya melarang anak-anaknya ngebak di Ciberes. Tapi karena bandel, lama-lama mereka pasrah juga kalau anak mereka ngebak. Mereka hanya mewanti-wanti jangan ngebak di tengah hari, ya antara jam 11 sampai jam 1 atau setengah 2. Kenapa? Karena konon pada jam segitu sering muncul kona. Apa itu kona? Kona ini konon (lucu ya pengucapannya, hahaha) adalah sejenis tuyul, tapi hidup di air. Jadi ya mungkin bisa dibilang kona adalah tuyul air. Tapi saya tidak tahu kenapa kona hanya menampakkan diri tengah hari. Kalau dulu penampakannya lumayan intensif hahaha. Dulu pernah ada orang tua yang sedang b.a.b. tengah hari diganggu oleh kona, dilempari kerikil. Tapi karena orang tua ini bermental baja, dia cuek saja (karena sudah biasa mungkin hahaha). Kona ini mungkin setipe dengan makhluk kappa di Jepang sana, anak kecil botak berparuh bebek dan bertempurung kura-kura, meskipun saya tidak tahu seperti apa tampang kona.

Hal lain yang ditakuti orangtua adalah binatang semacam ular atau lintah. Yang paling sering adalah penampakan lintah. Anak-anak itu kalau ngebak telanjang, jadi para orangtua takut lintah itu masuk ke saluran kencingnya. Kedalaman Ciberes juga ditakuti. Ada beberapa area yang dalam, bahkan orang dewasa juga bisa tenggelam. Tapi warga dan anak-anak sudah hapal area mana saja yang dalam dan dangkal. Hal lainnya adalah arus mendadak. Warga biasa menyebutnya “caah ti girang”, atau “arus besar dari hulu”. Arus ini datang mendadak karena mungkin di hulu ada hujan besar tapi di hilir tidak. Kasus anak hanyut lumayan sering terjadi karena terlambat menyelamatkan diri.

Hal menarik lain dari Ciberes adalah mencari ikan dan udang. Namanya juga sungai, pasti ada ikan dan udangnya kan.

Itulah sekilas Ciberes. Sekilas saja ya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar