Tiap nama di Jawa Barat yang diawali “ci”, pasti berhubungan dengan air.
Tentu saja, karena “ci” adalah air, kependekan dari “cai”. Yang memakai awalan
“ci” biasanya adalah nama daerah dan nama sungai.
Ciberes, inilah sungai yang memotong daerah Kalimanggis. Namanya memang
tidak mencerminkan kondisinya, maksudnya sungai ini tidaklah beres dan rapi,
berkelok-kelok dan banyak batu berbagai ukuran. Namanya juga sungai. Kata
orang-orang tua, batu-batu besar di Ciberes itu berasal dari letusan Gunung
Ciremai dahulu kala. Kalimanggis saat itu hanya kebagian batunya saja. Atau
bisa juga batu-batu itu terbawa arus sungai saat arusnya sedang luar biasa
besar.
![]() |
| Ciberes |
Ada jembatan di atas Ciberes, jembatan jalan raya. Dulu jembatan ini
sempit, tapi sekarang sudah lebar. Yang mendebarkan adalah kalau truk lewat.
Kondisi jalannya sekarang tidak begitu bagus. Mudah-mudahan saja bakal membaik
nantinya. Aamiin.
![]() |
| Jembatan |
Dulu, warga sering mandi dan mencuci di Ciberes. Tapi ada juga yang
melakukannya di mata air di tepi Ciberes. Ada beberapa mata air dan membentuk
semacam sumur dan airnya sangat jernih (tapi tentu saja tidak bisa diminum
karena tidak higienis). Tapi dulu masih parah, Ciberes juga suka menjadi WC
umum. Tapi itu dulu, dulu ya… sekarang sih warga b.a.b. di rumah masing-masing,
di WC masing-masing maksudnya. Lucunya, Ciberes juga sering jadi tempat
“ngebak” anak-anak. Ngebak itu bisa dibilang mandi dan berenang, tapi bukan
mandi dalam artian sebenarnya, mereka hanya cebur-ceburan dan main berenang,
dan mereka (biasanya) akan mandi di rumah. Warga dan anak-anak juga menyebut
itu bukan mandi. Yang lucu lagi, dulu saat Ciberes masih menjadi WC umum, kalau
ada orang yang mau “nabung” dan ada anak-anak ngebak, orang itu suka sengaja
nongkrongnya di hulu. Pas anak-anak lihat, mereka langsung berhamburan seperti
lalat tertiup topan sambil berteriak “awas aya nu ngebom (awas ada yang nge-bom)” hahaha.



Sekarangpun masih ada anak-anak ngebak di Ciberes, meski tidak sebanyak dulu.
Tapi Ciberes bukan hanya tempat bermain anak. Sungai ini juga jadi pemandian
umum bagi kerbau. Kerbau yang habis dinas biasa dimandikan di bawah jembatan
jalan. Kotor memang, apalagi kalau ada anak-anak di hilir. Tapi biasanya waktu
bersantai kerbau ini sore hari pas hampir maghrib, jadi jarang ada anak yang
ngebak, kecuali anak yang bandel. Ada saja yang ngebak di waktu hampir maghrib,
walaupun sudah diberitahu di hulu ada si kebo lagi rebahan.
Ciberes juga jadi ajang mencari lempung (tanah liat). Di tepinya banyak
terdapat tanah liat. Anak-anak biasa mencari lempung untuk dijadikan mainan
orang-orangan, atau kerajinan tangan tugas sekolah. Sayapun pernah membuat
topeng dari lempung Ciberes hahaha.
![]() |
| Jembatan bambu penghubung Desa Kalimanggiswetan dan Partawangunan |


Namun, Ciberes bukan hanya tempat untuk hal menyenangkan. Hal mengerikanpun ada. Kebanyakan orangtua sebenarnya melarang anak-anaknya ngebak di Ciberes. Tapi karena bandel, lama-lama mereka pasrah juga kalau anak mereka ngebak. Mereka hanya mewanti-wanti jangan ngebak di tengah hari, ya antara jam 11 sampai jam 1 atau setengah 2. Kenapa? Karena konon pada jam segitu sering muncul kona. Apa itu kona? Kona ini konon (lucu ya pengucapannya, hahaha) adalah sejenis tuyul, tapi hidup di air. Jadi ya mungkin bisa dibilang kona adalah tuyul air. Tapi saya tidak tahu kenapa kona hanya menampakkan diri tengah hari. Kalau dulu penampakannya lumayan intensif hahaha. Dulu pernah ada orang tua yang sedang b.a.b. tengah hari diganggu oleh kona, dilempari kerikil. Tapi karena orang tua ini bermental baja, dia cuek saja (karena sudah biasa mungkin hahaha). Kona ini mungkin setipe dengan makhluk kappa di Jepang sana, anak kecil botak berparuh bebek dan bertempurung kura-kura, meskipun saya tidak tahu seperti apa tampang kona.
Hal lain yang ditakuti orangtua adalah binatang semacam ular atau lintah.
Yang paling sering adalah penampakan lintah. Anak-anak itu kalau ngebak
telanjang, jadi para orangtua takut lintah itu masuk ke saluran kencingnya.
Kedalaman Ciberes juga ditakuti. Ada beberapa area yang dalam, bahkan orang
dewasa juga bisa tenggelam. Tapi warga dan anak-anak sudah hapal area mana saja
yang dalam dan dangkal. Hal lainnya adalah arus mendadak. Warga biasa
menyebutnya “caah ti girang”, atau “arus besar dari hulu”. Arus ini datang
mendadak karena mungkin di hulu ada hujan besar tapi di hilir tidak. Kasus anak
hanyut lumayan sering terjadi karena terlambat menyelamatkan diri.
Hal menarik lain dari Ciberes adalah mencari ikan dan udang. Namanya juga
sungai, pasti ada ikan dan udangnya kan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar