Rabu, 20 Mei 2015

Dihajar Guru SMP

Karena cerita ini cukup memalukan, jadi nama para pelaku dalam kejadian ini saya samarkan semuanya (walaupun mungkin gak ngaruh juga sih). Kejadian ini sudah sangat lama, yaitu ketika saya masih kelas 2 SMP di SMPN 1 Kalimanggis, yang pada waktu itu masih bernama SLTPN 2 Cidahu. Di tulisan tentang Kalimanggis saya cantumkan bahwa dulu Kalimanggis adalah bagian dari Kecamatan Cidahu, sebelum nantinya berubah menjadi kecamatan sendiri.

Di sekolah ini, waktu itu, ada beberapa guru yang ditakuti. Bukan karena pelit memberi nilai, tapi karena suka memukul! Pukulan itu biasanya berupa tamparan. Biasanya ya. Itu juga yang sejauh ini saya tahu. Dan pukulan itu diberikan sebagai hukuman hahaha. Selain pukulan, hukuman lain yang jadi langganan adalah gerakan olahraga, seperti push-up atau lari keliling lapangan basket.

Cerita ini terjadi ketika saya kelas 2 (saat itu memang masih memakai sistem kelas 123, bukan kelas 7, 8, 9). Guru yang satu ini adalah guru yang memang (sangat) ditakuti karena selain tidak lucu (tidak pernah melucu maksudnya), dia juga tidak pernah terlihat tertawa, dan suka memukul tiba-tiba tanpa basa-basi. Dan dia tidak pandang bulu, murid wanitapun dia sikat, tak cuma murid laki-laki. Itulah yang membuat dia ditakuti. Dia ini pengajar ilmu pasti yang suka mengajarkan tentang listrik, bunyi, gaya, tekanan, dsb. Tebak sendirilah dia pengajar mapel apa hahaha.


SMP, dilihat dari seberang lapangan dengan background Gunung Ciremai
Tersebutlah ada dua murid kelas 2-C, si Ujang dan si Udin (bukan nama sebenarnya, saya sudah bilang di atas kan namanya saya samarkan semuanya). Karena si bapak guru tadi tidak masuk-masuk, mereka berpikirnya dia tidak akan mengajar. Akhirnya mereka malah di luar, ngobrol di tepi lapang basket, di bawah pohon beringin, ngobrol dengan murid wanita dari kelas 2-D, ya sebut saja Neneng-lah.



Tak berapa lama, tiba-tiba si bapak itu keluar dari ruang guru. Kagetlah si Ujang dan si Udin. Secepat kucing mereka lari masuk kelas, sedangkan si bapak tetap santai jalan melewati lapang basket menuju kelas. Mereka kaget, karena ternyata di dalam kelas, sekretaris kelas sedang menulis materi di papan tulis. Barulah si Ujang berpikir, ternyata ada tugas, dan mereka tidak tahu. Dalam hati dia agak dongkol sambil menggerutu “kenapa si Wawan gak ngasih tau ada tugas.” Si Wawan itu ketua kelas. Nama samaran juga.

Si Ujang duduk, mengeluarkan buku. Saat mengeluarkan buku, si bapak guru ini jalan santai ke arah meja dia. Pas dia naruh buku di meja, si bapak mendekat, mengambil buku, dan PLAK!!! Itu buku tulis yang lumayan tebal mendarat dengan tepat sempurna dan keras di pipi kanan si Ujang. Tentu saja semua murid kaget. Ya wajar saja kaget. Si bapak itu adem ayem aja mukanya pas jalan. Bahkan matanya tidak melihat ke si Ujang pas jalan. Ringan banget tuh tangan kaya main bulutangkis hahaha, tanpa ba-bi-bu dia pukul shuttlecock berupa pipi.

Si bapak lanjut jalan ke belakang, ke arah meja si Udin. Si Udin ini lebih sial lagi. Dia tidak ditampar pake buku, tapi dihantam pake batu cincin. Keningnya dihantam pake batu cincin sampe mau terpental ke belakang.

Semua murid diam. Kelas hening. Kembali menulis. Selesai menulis, si bapak menjelaskan materi yang tadi ditulis. Setelah selesai, dia keluar. Pelajaran selesai. That’s it. The end. Kalau saya tidak salah ingat, si bapak itu sempat berujar sebelum keluar, semacam kalimat “kalian, yang tadi, jangan diulangi lagi ya.” Tapi itu ingatan lamat-lamat, saya tidak yakin 100%.

Setelah itu baru kelas rame lagi, membahas si Ujang dan si Udin. Si Udin cerita dia sampe pusing keleyengan (tidak sampe 7 keliling) karena terjangan batu cincin si bapak. Dalam hati si Ujang kembali dongkol kenapa si Wawan nggak ngasih tau ada tugas. Si bapak itu memang terkenal galak. Waktu saya kelas 1 pun, 2 murid wanita dipukul sampe menangis. Ckckckck.

Itulah sekilas pengalaman dua murid SMP. Sialnya, kisah itu menyebar ke kelas lain. Si Nenengpun bahkan sampe minta maaf ke si Ujang karena ikut merasa bersalah mengobrol pas KBM.

Di SMPN 1 Kalimanggis dulu memang kerap terjadi kekerasan oleh guru kepada murid. Dan itu bukan rahasia umum lagi, semua murid juga tau. Tapi itu dulu ya… dulu. Bukan bermaksud menjelekkan sekolah sendiri, tapi itu memang fakta yang sudah diketahui banyak orang. Dan sekali lagi, itu dulu ya…

Itulah sekilas cerita. Semoga ada hikmahnya. Walaupun memang, 2 murid itu juga salah. Tapi menurut saya, mendidik murid dengan memukul bahkan sampai kesakitan seperti itu, adalah tidak benar juga. Kalau menurut saya pribadi sih, berlebihan. Kalau murid sampai cedera, gimana??? Yah sekali lagi, semoga ada hikmah yang bisa diambil.


P.S.:
Kenapa saya memakai judul “dihajar”, bukan “dipukul”, karena si bapak menggunakan dua jurus yang berbeda.
Foto sekolah menyusul.
Foto si Ujang dan si Udin? Namanya aja nama samaran, masa fotonya harus ditampilin.

Dan ngomong-ngomong, si Ujang itu adalah saya sendiri hahahahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar